Naik Gunung (mandi angin)

Standar
T.O.P.P

T.O.P.P

Naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali..
Kiri kanan ku lihat saja, banyak pohon cemara.. 2x

ciee.. yg ngebaca sambil nyanyi, masa kecilnya terselamatkan.

Belakangan ini di Banjarmasin sedang ngetren berwisata di daerah sendiri, entah itu ke pantai, naik gunung, turun gunung, bikin gunung, megang gunung bahkan nyedot gunung. *eh pernyataan macam apa ini?

Tepat pada malam minggu (15 Juli 2014) yg ketika itu kita kita sedang asik kopdar, seorang teman sebut saja bang Khai (baca: bangkai) nyeletuk dgn isengnya secara dadakan mengajak naik gunung dan juga tanpa basa-basi di iyakan oleh teman-teman yg lain,tentu juga olehku yang penasaran ingin memotret milkyway dan sunrise yg tampak dari gunung mandiangin tersebut.

area wajib foto

area wajib foto

Singkat cerita, kita janji ketemuan di depan perpustakaan daerah di kilometer 6. saat itu yang ikut ada 7 orang, Azmi, bangkai,  Pesal, Zizah, Fahri, Wawan, termasuk aku sendiri.
Tanpa persiapan sama sekali kami berangkat malam itu juga, sekitar pukul 10.30 malam dari Banjarmasin yang kebetulan si Pesal dan Bangkai sudah pernah kesana dan mewanti-wanti agar bawa senter, masker juga jas hujan dan air mineral secukupnya.

Sesampainya disana agak dibuat heran dan bingung jadi satu, gunung yang harusnya sepi ternyata luar biasa banyak pengunjungnya. Antusias itu sudah terlihat saat perjalanan menuju Mandiangin, di jalan tampak ramai orang yang menuju kesana.

ketika di gerbang ada petugas penjaga retribusi resmi memasuki tempat wisata mandiangin tersebut, jadi kita bayar /motornya sebesar Rp 5.000,- dan sesampainya di tempat parkiran kita akan diminta kembali membayar sebesar Rp.5000,-/motor.

ganteng-ganteng panda :D

ganteng-ganteng panda 😀

Sudah tak asing lagi “tengger” dan “benteng belanda” yg menjadi tujuan wisata banyak orang di pegunungan Mandiangin selain air terjunnya.

Perjalanan kaki dari parkiran menuju Tengger sepertinya kurang lebih 2 kilometer, kami mengurungkan niat ke tengger karna kata bangkai terlalu padat orang,juga view untuk memotret sunrise kurang bagus disana (katanya bangkai juga sihh..) maka kami memberhentikan perjalanan sebelum mencapai puncak.

Niat untuk menyatu dengan alam dan memotret milkyway pun bahkan tak dapat terlaksana, dikarenakan banyaknya pengunjung disana yg menikmati kebebasan, memecah dan menjamah kesyahduan malam alias teriak-teriak tak jelas dan bernyanyi tanpa henti walau burung hantu sudah tak bersuara lagi. Lebih buruk lagi cuaca yang sangat tidak mendukung, mendung pun tak terelakkan sehingga hamparan bintang yg berjejer menjadi milkyway yg harusnya dapat dilihat dari atas gunung tidak tampak satupun.

Pada malam ini kami tidak sedikitpun dari kami merasakan ketenangan dan keramahan pegunungan, sial juga dirasakan oleh pesal yang keteteran hape nya pada saat naik gunung. *tutur berduka ya sal

yeahh..

yeahh..

Subuh, sekitar pukul 4.30 pagi, masih ada beberapa yang bernyanyi dari kejauhan walau tidak sebanyak tengah malam. Dan akupun bergegas mencari tahu apakah sudah waktunya shalat shubuh atau belum, sembari menunggu adzan shubuh tiba (walau tidak ada satupun yg adzan di gunung) akupun mencari tahu arah kiblat. Ini susahnya kalau sedang bepergian ke tempat yg jauh dari kota tanpa membawa kompas.

Dengan sisa batrai di hp dan jaringan internet yg seadanya, aku mencaritahu bagaimana cara mencari arah kiblat di pegunungan. banyak sumber yang didapat namun agak “miss” dari pemahamanku. hahaha 😀
Syukurnya pada saat itu bulan masih tampak, berbekal ilmu mengetahui arah kiblat dari cahaya matahari maka ku putuskan untuk memakai teori tsb dengan melihat bulan.

Gampangnya, kiblat mengarah pada bayangan matahari yg jatuh pada pukul 4 sore. yang berarti letak sunrise tiba ialah membelakangi kiblat. pada pukul 05.00 pagi walau matahari belum terlihat akan muncul dari mana, kita masih dapat mengandalkan posisi bulan. Menurut beberapa sumber yg ku baca, jika kita berada pada tempat yg tidak kita ketahui dimana arah kiblatnya maka kita harus bertanya pada orang sekitar,dan apabila masih tidak tahu maka boleh menghadap manapun dengan catatan sudah berusaha mencari arah kiblat tersebut sekuat mungin.

turun gunung

turun gunung

manusianya banyak

manusianya banyak

tenda di jalan

tenda di jalan

menuju parkiran

menuju parkiran

Matahari pun mulai terbit, namun karna buruknya cuaca dan kabut yg agak tebal maka sunrise yg begitu bagus dilihat dari pegunungan tidak begitu tampak, yg ada hanya bias cahayanya.
Kamipun turun gunung, sempat singgah pada beberapa spot yang cukup bagus untuk memotret dan berfoto bersama. hehe

 

gunung tahura mandiangin

IMG_7776

Jangan pernah naik gunung mandiangin pada weekend jika ingin merasakan ketenangannya 🙂

yg punya kisah menarik lainnya di pegunungan share juga dong.

 

nb: maaf jika ada kesalahan dalam pencarian arah kiblat yg ditulis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s